Hukum Perempuan Melaksnakan haji dan Umroh

Hukum dan ketentuan khusus berhaji dan umroh bagi perempuan

Perempuan wajib melaksanakan haji sebagaimana laki-laki ketika telah memenuhi syarat-syarat wajib dan ditamba lagi di temani oleh suami atau mahramnya.

Ibnu Abbas r.a meriwayatkan aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
” janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali bersama dengan mahramnya dan janganlah seorang perempuan melakukan perjalanan kecuali bersama dengan mahramnya.”

Pada saat itu, seseorang berdiri lantas berkata ‘ wahai Rasulullah istri ku akan pergi haji dan aku telah menetapkan diriku untuk ikut dalam peperangan.

Rasulullah bersabda,
” pergilah, lalu temani lah istrimu dalam melakukan haji”

Yahya bin ubbat berkata, ” seorang perempuan dari penduduk Ray menulis surat kepada Ibrahim nakhi. Di dalam suratnya itu ia berkata, ‘ sesungguhnya aku belum melakukan haji islam dan aku mampu melakukannya. Namun aku tidak memiliki mahram yang menemaniku.

Ibrahim membalas surat tadi Dengan mengatakan, ‘ kamu termasuk orang yang tidak dijadikan mampu oleh Allah subhanahu wa ta’ala,”

Abu Hanifah, murid-murid abu Hanifah, Nakha’i, hasan, Tsauri, ahmad dan Ishaq mensyaratkan hal itu dan menjadikan sebagai bagian dari syarat perempuan.

Al-hafidz berkata, ” menurut pendapat yang masyhur dari kalangan Syafi’iyah, adanya suami, mahram atau perempuan-perempuan yang dapat dipercaya untuk memahami seorang perempuan yang pergi haji merupakan hal yang disyaratkan. Menurut sebagian pendapat 1 perempuan yang dipercaya (untuk menemani perempuan yang melakukan haji) sudah cukup. Menurut sebagian pendapat yang lain pendapat ini dinukil oleh karabisi- perempuan boleh melakukan haji secara sendirian jika jalan yang menuju ke tanah suci dalam keadaan aman dan dengan biaya paket umroh murah.”

Semua syarat ini adalah untuk haji dan umroh yang wajib.

Shan’ani dalam subulussalam mengatakan, ” sejumlah Imam mengatakan bahwa perempuan tua boleh melaksanakan Haji tanpa ditemani mahramnya.”

Para ulama yang memperbolehkan perempuan pergi haji tanpa ditemani mahram atau suami ketika ia menemukan kelompok perempuan yang dapat dipercaya atau jalan menuju Tanah Suci aman menggunakan dalil hadits bahwa Adi bin Hatim berkata, ” ketika aku berada di sisi Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam tiba-tiba seseorang datang kepada beliau untuk mengadukan kefakirannya. Kemudian orang lain datang dan mengadukan terputusnya jalan menuju Tanah Suci baginya.

Mendengar pengaduan ini rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ” wahai Adi, apakah kamu telah melihat hirah?

Aku berkata, ‘ aku belum pernah melihatnya, namun aku telah mendengar berita Beritanya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ” jika umurmu panjang maka kamu akan melihat seseorang perempuan pergi dari Hirah hingga mengelilingi Ka’bah tanpa merasa takut kecuali kepada Allah.”

Mereka juga berargumen bahwa istri-istri nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Pergi haji setelah Umar mengizinkan mereka pada akhir hajinya. Umar mengutus Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf untuk menemani mereka.
Ketika itu Usman bin Affan berseru, ” janganlah salah seorang diantara kalian mendekati mereka dan jangan pula melihat mereka.” mereka berada di dalam Haudah di atas unta unta.

Apabila seorang perempuan tidak mengindahkan aturan ini dan nekat berangkat haji tanpa mahram, maka hajinya sah.
Shan’ani di dalam Subulussalam mengatakan, ” ibnu Taimiyah berkata, ‘ haji seorang perempuan tanpa ditemani mahram dan haji orang yang tidak memiliki kemampuan, (namun ia melaksanakan sendiri) adalah sah. Kesimpulannya, orang yang tidak wajib haji karena tidak memiliki kemampuan seperti orang yang sakit, orang fakir, orang yang lumpuh, orang yang terputus jalannya, perempuan yang tidak memiliki mahram dan sebagainya ketika ia melaksanakan haji, maka hajinya adalah sah.

Ibnu qudamah di dalam al Mughni mengatakan, ” jika orang yang tidak mampu menahan Derita dengan susah payah dan ia pergi untuk haji tanpa bekal dan kendaraan maka hajinya sah dan mencukupi.”

Hukum perempuan meminta izin berhaji kepada suaminya

Seorang perempuan disunahkan untuk meminta izin kepada suaminya ketika hendak Melaksanakan haji wajib. Jika suaminya memberi izin ia diperbolehkan untuk pergi haji; karena suami tidak berhak melarang istrinya untuk menunaikan ibadah haji wajib.

Hal itu karena haji adalah ibadah yang sudah menjadi kewajibannya karena itu tidak boleh taat kepada makhluk yang memerintahkan untuk mendurhakai Allah. Iya boleh mempercepat pelaksanaannya agar lekas terbebas dari tanggungan, seperti ketika ia melakukan salat pada awal waktu. Suami dalam keadaan ini tidak ada hak untuk melarangnya.

Ketentuan ini juga untuk berhaji Nazar; karena Haji Nazar wajib dilaksanakan olehnya seperti halnya Haji Islam. Adapun dalam Haji sunnah, suami boleh melarang istrinya untuk melakukannya. Ibnu Umar r.a meriwayatkan bahwa salah seorang perempuan yang memiliki harta dan suami, tidak diizinkan rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk melakukan haji. Beliau bersabda, ” ia tidak boleh pergi (untuk berhaji) kecuali mendapat izin dari suaminya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *