Penjelasan Tentang Badal Haji untuk Orang lain | Paket Umroh Murah

Melakukan haji / umroh untuk orang lain (badal haji dan umroh) | Bersama Alfatour dengan layanan paket umroh murah

1. Orang yang wajib haji meninggal sebelum berhaji

Barang siapa yang meninggal dunia, namun Haji wajib atau Haji nazarnya belum dilaksanakan maka walinya wajib untuk menghajikan nya dengan harta dari peninggalan orang yang meninggal, seperti ketika ia memiliki utang utang yang belum dilunasi.
Ibnu Abbas r.a meriwayatkan bahwa seorang perempuan dari juhainah datang kepada nabi shallallahu Alaihi Wasallam. Lalu berkata,” sesungguhnya Ibuku telah bernazar untuk melakukan haji namun ia tidak melaksanakan nazarnya hingga ia meninggal dunia apakah aku boleh melakukan haji untuknya.
Beliau bersabda, ” lakukanlah Haji untuknya. Bukankah jika Ibu memiliki hutang, kamu akan membayarkannya? Bayarlah (hak) Allah, sesungguhnya Allah lebih berhak dibayar.

Hadis ini menunjukkan Kewajiban melakukan haji untuk mayat, baik ia berwasiat atau tidak berwasiat; karena uang wajib dibayar secara mutlak. Begitu juga hak-hak yang berkaitan dengan harta seperti kafarat, zakat atau Nazar.

Ifrormasi mengenai Agen Travel Umroh terpercaya  yaitu Alfatour Kafilah Iman dengan layanan paket umroh murah

Hal itu merupakan pendapat Ibnu Abbas, zaid bin Tsabit, abu Hurairah dan Syafi’i. Biaya pelaksanaan diambilkan dari harta orang yang meninggal. Adalah sesuatu yang jelas hak Allah lebih berhak dilakukan daripada hak Adam ketika harta yang ada tidak mencukupi haji dan membayar hutang. Hal ini dikarenakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
” allah lebih berhak dibayar,”

Malik berkata,” menghajikan orang yang telah meninggal dilaksanakan ketika orang yang meninggal itu telah berwasiat, jika ia tidak berwasiat tidak usah dihajikan karena haji adalah yang lebih banyak didominasi Sisi badan dan ibadah jenis ini tidak menerima ganti tetapi apabila ia berwasiat maka dihajikan dengan sepertiga hartanya,”

2. Orang yang tidak bisa berhaji karena sakit atau renta

Barangsiapa yang mampu melaksanakan haji, kemudian menjadi tidak mampu karena sakit atau tua maka ia wajib meminta orang lain untuk melakukan haji sebagai ganti dirinya karena ia tidak bisa mengharapkan dirinya lagi untuk melaksanakan haji karena sudah menjadi lemah, sehingga ia mirip dengan orang yang meninggal.

Hal ini juga karena fadhl bin Abbas meriwayatkan bahwa seorang perempuan dari khats’am berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, ‘ wahai Rasulullah, allah telah mewajibkan Haji kepada para hamba-nya, sementara Ayahku sudah tua renta ia tidak mampu untuk menaiki kendaraan apakah aku melakukan haji untuknya?
Beliau menjawab,” ya.”
Peristiwa ini terjadi pada saat haji Wada

Imam At Tirmidzi mengatakan, ” telah diriwayatkan lebih dari 1 hadis nabi yang shahih dalam masalah ini. Inilah yang telah dilakukan oleh para sahabat nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan lainnya.

Mereka berpendapat bahwa melakukan haji untuk mayat adalah boleh. Tsauri Ibnu Mubarak, imam Syafi’i, imam Ahmad dan Ishak berpendapat seperti ini;
Sementara itu imam Malik berkata, ” jika Sebelum meninggal mayat telah berwasiat agar dihajikan, maka ia wajib dihajikan.”

Sebagian ulama membolehkan dilaksanakannya haji untuk menggantikan haji orang yang masih hidup ketika ia sudah tua dan tidak mampu melakukannya sendiri. Ini adalah pendapat Ibnu mubarak dan Imam Syafi’i.

Hadis di atas menunjukkan bahwa perempuan boleh melakukan haji untuk menggantikan perempuan atau laki-laki, begitu juga laki-laki boleh melakukan haji untuk menggantikan laki-laki maupun perempuan. Tidak ada suatu Nas yang menentang hal itu.

3. Orang sakit yang sembuh setelah dihajikan

Apabila orang yang sakit menjadi sembuh setelah orang lain menghentikan hajinya, maka kewajiban hajinya sudah gugur dan karena itu ia tidak berkewajiban untuk mengulangi haji agar tidak menjadi haji wajib 2 kali hal ini merupakan pendapat Imam Ahmad.

4. Syarat orang berhaji untuk orang lain

Orang yang melakukan haji bagi orang lain disyaratkan dirinya telah melakukan haji bagi dirinya sendiri sebelumnya.

Ibnu Abbas r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mendengar seseorang berkata,’ aku memenuhi panggilanmu untuk syubrumah.’
Beliau bersabda,” apakah kamu telah melakukan haji bagi dirimu sendiri? Iya menjawab,’ belum,’
Beliau bersabda,” lakukanlah haji bagi dirimu kemudian lakukanlah haji untuk syubrumah.
Kesimpulannya. Melakukan haji bagi orang lain tidak sah secara mutlak kecuali jika orang yang melakukan haji tadi telah melakukan haji bagi dirinya sendiri sebelumnya, baik sebelumnya ia mampu maupun tidak mampu karena tidak ada perincian dan penjelasan lebih lanjut oleh rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Mengenai hal tersebut menunjukkan bahwa hukum yang telah beliau tetapkan ini bersifat umum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *